
Membeli truk sendiri terlihat seperti keputusan yang menguntungkan bagi bisnis yang membutuhkan pengiriman secara rutin. Perusahaan memiliki kendaraan sendiri, tidak perlu bergantung pada armada pihak lain, dan dapat mengatur jadwal pengiriman dengan lebih fleksibel.
Namun, harga beli truk bukanlah satu-satunya biaya yang perlu diperhitungkan.
Setelah kendaraan dimiliki, masih ada berbagai biaya operasional yang terus berjalan. Mulai dari bahan bakar, perawatan, pajak, asuransi, gaji pengemudi, hingga penyusutan nilai kendaraan.
Jika seluruh komponen tersebut tidak dihitung sejak awal, biaya memiliki armada sendiri bisa jauh lebih besar dari perkiraan.
Karena itu, sebelum membeli truk, perusahaan perlu menghitung Total Cost of Ownership (TCO) atau total biaya kepemilikan kendaraan.
Harga Beli Truk Bukan Biaya Sebenarnya
Misalnya sebuah perusahaan membeli truk dengan harga Rp500 juta.
Secara sederhana, perusahaan mungkin menganggap kebutuhan investasi hanya sebesar Rp500 juta. Padahal, kendaraan tersebut akan menghasilkan berbagai biaya selama digunakan.
Beberapa biaya bahkan muncul setiap bulan, sementara sebagian lainnya baru terasa setelah kendaraan digunakan dalam jangka waktu tertentu.
Secara sederhana, total biaya kepemilikan truk dapat dihitung dengan mempertimbangkan:
Total Cost of Ownership = Harga Kendaraan + Biaya Operasional + Biaya Perawatan + Biaya Administrasi + Penyusutan – Nilai Jual Kembali
Perhitungan tersebut dapat disesuaikan dengan jenis kendaraan, jarak tempuh, intensitas penggunaan, dan karakteristik operasional perusahaan.
Artinya, harga kendaraan sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar ketika menentukan apakah perusahaan perlu membeli armada sendiri.
1. Biaya Bahan Bakar Sering Menjadi Pengeluaran Terbesar
Semakin sering truk digunakan, semakin besar pula konsumsi bahan bakarnya.
Biaya ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis truk, kapasitas muatan, kondisi jalan, jarak tempuh, kondisi kendaraan, hingga gaya mengemudi.
Sebagai contoh, apabila satu truk menempuh rata-rata 3.000 km per bulan dan konsumsi bahan bakarnya 5 km per liter, kendaraan tersebut membutuhkan sekitar 600 liter bahan bakar setiap bulan.
Jika harga bahan bakar yang digunakan adalah Rp10.000 per liter, maka kebutuhan bahan bakarnya mencapai sekitar:
600 liter × Rp10.000 = Rp6 juta per bulan
Dalam satu tahun, biaya tersebut dapat mencapai sekitar Rp72 juta.
Itu baru bahan bakar.
Jika perusahaan memiliki beberapa unit truk, pengeluaran tersebut tentu akan meningkat secara signifikan.
2. Perawatan dan Perbaikan Tidak Bisa Dihindari
Truk yang digunakan secara rutin akan mengalami keausan pada berbagai komponennya.
Oli, filter, ban, rem, aki, suspensi, kopling, dan berbagai komponen lainnya membutuhkan pemeriksaan serta penggantian secara berkala.
Selain preventive maintenance, perusahaan juga harus memperhitungkan kemungkinan adanya unexpected repair.
Kerusakan kendaraan dapat menyebabkan dua jenis biaya sekaligus.
Pertama, biaya untuk memperbaiki kendaraan.
Kedua, biaya akibat kendaraan tidak dapat beroperasi selama proses perbaikan.
Jika satu truk mengalami kerusakan selama beberapa hari, perusahaan mungkin perlu mencari kendaraan pengganti agar pengiriman tetap berjalan.
Karena itu, biaya perawatan sebaiknya tidak hanya dihitung berdasarkan biaya servis rutin, tetapi juga mempertimbangkan potensi downtime kendaraan.
3. Ban Truk Juga Memerlukan Anggaran
Ban sering dianggap sebagai bagian kecil dari biaya operasional. Padahal, untuk kendaraan komersial yang memiliki jarak tempuh tinggi, penggantian ban dapat menjadi pengeluaran yang cukup besar.
Umur ban dipengaruhi oleh beban kendaraan, kondisi jalan, tekanan angin, pola penggunaan, dan perawatan.
Penggunaan ban yang tidak sesuai juga dapat meningkatkan risiko kerusakan dan memengaruhi konsumsi bahan bakar.
Karena itu, perusahaan perlu memasukkan biaya ban sebagai bagian dari perhitungan operasional armada, bukan sebagai biaya tidak terduga.
4. Gaji Pengemudi dan Biaya Tenaga Kerja
Memiliki truk berarti perusahaan juga perlu memastikan kendaraan tersebut memiliki pengemudi yang menjalankan operasional.
Selain gaji pokok, perusahaan dapat memiliki biaya lain yang berkaitan dengan tenaga kerja, seperti tunjangan, uang makan, perjalanan, lembur, atau biaya operasional lainnya sesuai sistem perusahaan.
Semakin banyak kendaraan yang dimiliki, semakin besar pula kebutuhan tenaga kerja untuk mengoperasikan armada tersebut.
Ini berbeda dengan penggunaan jasa trucking, di mana perusahaan tidak perlu membangun struktur tenaga kerja pengemudi untuk setiap kendaraan yang digunakan.
5. Pajak, KIR, Asuransi, dan Administrasi
Ada pula biaya yang mungkin tidak terlihat ketika pertama kali menghitung harga truk.
Kendaraan operasional membutuhkan kewajiban administrasi dan legalitas yang perlu diperhatikan selama masa penggunaannya.
Perusahaan juga perlu mempertimbangkan biaya asuransi serta pemeriksaan kendaraan sesuai ketentuan yang berlaku.
Biaya-biaya tersebut mungkin tidak sebesar harga pembelian kendaraan, tetapi sifatnya berulang dan perlu dimasukkan dalam perhitungan biaya tahunan.
6. Penyusutan Nilai Kendaraan
Ini adalah salah satu biaya yang sering terlupakan.
Truk merupakan aset yang nilainya dapat mengalami penyusutan seiring waktu dan penggunaan.
Misalnya perusahaan membeli truk seharga Rp500 juta. Setelah beberapa tahun digunakan, kendaraan tersebut tentu tidak selalu dapat dijual kembali dengan harga Rp500 juta.
Selisih antara harga perolehan dan nilai kendaraan ketika dijual kembali merupakan bagian penting dalam menghitung biaya kepemilikan.
Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya bertanya:
“Berapa harga beli truk?”
Tetapi juga:
“Berapa nilai truk ini setelah digunakan selama 3–5 tahun?”
Perhitungan tersebut memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai investasi armada.
7. Biaya Downtime Bisa Lebih Mahal dari yang Diperkirakan
Truk yang sedang berada di bengkel tidak menghasilkan perjalanan.
Padahal, pada saat yang sama, kebutuhan pengiriman tetap berjalan.
Misalnya satu kendaraan biasanya digunakan untuk mengirim barang setiap hari. Ketika kendaraan mengalami kerusakan dan harus berhenti selama beberapa hari, perusahaan dapat kehilangan kapasitas pengiriman.
Jika perusahaan kemudian menyewa kendaraan pengganti, biaya tambahan kembali muncul.
Inilah alasan mengapa vehicle downtime perlu dimasukkan dalam perhitungan biaya armada.
Armada sendiri memberikan kontrol lebih besar terhadap kendaraan, tetapi perusahaan juga mengambil alih risiko operasional kendaraan tersebut.
Lebih Baik Beli Truk atau Gunakan Jasa Trucking?
Tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua bisnis.
Keputusan sebaiknya disesuaikan dengan pola pengiriman perusahaan.
Membeli truk dapat dipertimbangkan apabila perusahaan memiliki kebutuhan pengiriman yang stabil, utilisasi kendaraan tinggi, rute yang relatif konsisten, serta kemampuan untuk mengelola armada dan perawatannya.
Sementara itu, jasa trucking dapat menjadi alternatif ketika kebutuhan pengiriman berubah-ubah, perusahaan ingin mengurangi investasi aset, atau ingin lebih fokus pada kegiatan utama bisnis.
Yang penting bukan hanya membandingkan:
Harga beli truk vs tarif trucking.
Perbandingan yang lebih tepat adalah:
Total biaya memiliki armada vs total biaya menggunakan jasa trucking.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat melihat biaya secara lebih menyeluruh.
Hitung Dulu Sebelum Menambah Armada
Membeli truk merupakan investasi yang membutuhkan modal besar dan komitmen operasional jangka panjang.
Sebelum melakukan pembelian, perusahaan sebaiknya menghitung seluruh komponen biaya, mulai dari investasi awal hingga biaya kendaraan selama digunakan.
Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab antara lain:
- Berapa kilometer rata-rata kendaraan berjalan setiap bulan?
- Berapa konsumsi bahan bakarnya?
- Berapa biaya perawatan tahunan?
- Berapa biaya ban dan komponen lainnya?
- Berapa biaya pengemudi?
- Berapa biaya pajak dan asuransi?
- Berapa estimasi penyusutan kendaraan?
- Berapa potensi biaya ketika kendaraan mengalami downtime?
- Berapa nilai jual kembali kendaraan?
Setelah semua komponen tersebut dihitung, perusahaan dapat membandingkannya dengan biaya menggunakan jasa trucking.
Dengan demikian, keputusan armada tidak hanya berdasarkan asumsi bahwa memiliki truk sendiri pasti lebih murah.
Fastruck Membantu Kebutuhan Pengiriman Tanpa Harus Menambah Armada
Tidak semua bisnis membutuhkan investasi truk sendiri untuk memenuhi kebutuhan distribusi.
Ketika kebutuhan pengiriman belum stabil atau perusahaan ingin menjaga modal tetap fleksibel, menggunakan jasa trucking dapat menjadi salah satu alternatif.
Fastruck, bagian dari Fasdeli Group, menyediakan layanan trucking untuk membantu kebutuhan pengiriman barang perusahaan tanpa harus menanggung seluruh biaya kepemilikan armada sendiri.
Dengan menggunakan jasa trucking, perusahaan dapat mengalokasikan modal dan sumber daya untuk kegiatan bisnis utama, sementara kebutuhan transportasi dapat dikelola melalui penyedia jasa logistik.
Sebelum membeli truk, hitung terlebih dahulu seluruh biaya yang akan muncul selama kendaraan digunakan.
Karena yang dibeli bukan hanya sebuah kendaraan, tetapi juga seluruh biaya operasional dan tanggung jawab yang mengikutinya.
Fastruck merupakan bagian dari Fasdeli Group, yang menyediakan solusi terintegrasi untuk kebutuhan impor, logistik, dan distribusi.
Fasdeli Group
Integrated Import Solutions
- Fastruck — Trucking & distribusi → https://fastruck.id/
- Faspoint — Fulfillment & pergudangan → https://faspoint.id/
- Genco — Impor FCL & kepabeanan → https://gencoexpress.id/
- Harvest Indoexpress — Impor & freight forwarding → https://harvestindoexpress.id/
- Fasremit — Pengiriman uang antarnegara → https://fasremit.com/
- Fasdana — Pembiayaan impor → https://www.fasdana.id