Dalam dunia transportasi logistik, banyak perusahaan berusaha menekan biaya distribusi dengan mencari tarif angkut yang lebih murah atau memilih armada yang lebih hemat bahan bakar. Namun, ada satu pemborosan yang sering luput dari perhatian, yaitu empty miles atau perjalanan truk tanpa muatan.

Sekilas, perjalanan pulang tanpa membawa barang mungkin terlihat wajar. Padahal, jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat mengurangi produktivitas armada, meningkatkan biaya operasional, bahkan menggerus keuntungan perusahaan.

Lalu, apa sebenarnya empty miles, dan bagaimana cara menguranginya?

Apa Itu Empty Miles?

Empty miles adalah kondisi ketika truk menempuh perjalanan tanpa membawa muatan. Biasanya terjadi setelah kendaraan selesai mengirim barang ke lokasi tujuan dan harus kembali ke gudang, pool, atau kota asal tanpa mendapatkan muatan balik.

Dalam industri logistik internasional, kondisi ini juga dikenal dengan istilah deadhead miles.

Meskipun tidak menghasilkan pendapatan, seluruh biaya perjalanan tetap harus dikeluarkan, mulai dari bahan bakar, tol, gaji pengemudi, hingga penyusutan kendaraan.

Semakin tinggi persentase empty miles, semakin rendah efisiensi operasional armada.

Mengapa Empty Miles Bisa Menguras Profit?

Banyak perusahaan hanya menghitung biaya saat truk membawa barang. Padahal, perjalanan kosong tetap menghabiskan sumber daya.

Mesin kendaraan tetap bekerja meskipun tidak membawa muatan. Artinya, setiap kilometer perjalanan kosong tetap mengonsumsi solar yang menjadi biaya operasional perusahaan.

Pada distribusi antarkota yang menggunakan jalan tol, kendaraan tetap dikenakan tarif tol meskipun berjalan tanpa membawa barang.

Jika empty miles terjadi setiap hari, total biaya tol yang tidak menghasilkan pendapatan bisa menjadi sangat besar.

Armada hanya menghasilkan pendapatan ketika membawa muatan.

Semakin lama kendaraan berada di jalan tanpa barang, semakin sedikit perjalanan produktif yang dapat dilakukan dalam satu hari.

Akibatnya, tingkat utilisasi armada menjadi rendah.

Setiap perjalanan akan menambah jarak tempuh kendaraan.

Ban, rem, suspensi, oli, hingga komponen mesin tetap mengalami keausan walaupun kendaraan berjalan kosong.

Dalam jangka panjang, biaya maintenance akan meningkat.

Selain merugikan perusahaan, empty miles juga meningkatkan emisi karbon karena kendaraan tetap membakar bahan bakar tanpa memberikan nilai ekonomi.

Karena itu, pengurangan perjalanan kosong kini menjadi salah satu fokus utama dalam praktik logistik berkelanjutan.

Apa Penyebab Truk Pulang Kosong?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan empty miles masih sering terjadi.

Pertama, perusahaan tidak memiliki muatan balik (backhaul) setelah pengiriman selesai.

Kedua, perencanaan rute distribusi yang kurang optimal membuat armada harus kembali ke titik awal tanpa membawa barang.

Selain itu, koordinasi yang kurang baik antara pengirim, penerima, dan penyedia jasa transportasi juga dapat meningkatkan risiko perjalanan kosong.

Semakin terbatas jaringan distribusi yang dimiliki perusahaan, semakin sulit pula mendapatkan muatan balik.

Bagaimana Cara Mengurangi Empty Miles?

Backhaul adalah strategi mencari muatan dari kota tujuan untuk dibawa kembali ke kota asal atau tujuan berikutnya.

Dengan adanya muatan balik, perjalanan yang sebelumnya tidak menghasilkan pendapatan dapat berubah menjadi perjalanan produktif.

Perencanaan rute yang baik membantu armada mengunjungi beberapa titik pengiriman dalam satu perjalanan sehingga mengurangi jarak tempuh yang tidak diperlukan.

Strategi ini juga mampu menghemat waktu dan konsumsi bahan bakar.

TMS membantu perusahaan mengelola jadwal kendaraan, memonitor posisi armada secara real-time, menyusun rute terbaik, hingga mengoptimalkan utilisasi kendaraan.

Dengan data yang akurat, peluang terjadinya empty miles dapat ditekan secara signifikan.

Perusahaan logistik yang memiliki jaringan pelanggan di berbagai daerah lebih mudah memperoleh muatan balik.

Hal ini membantu meningkatkan tingkat keterisian armada dan membuat biaya distribusi menjadi lebih efisien.

Mengapa Empty Miles Penting Diperhatikan?

Dalam industri logistik modern, efisiensi tidak hanya diukur dari cepatnya barang sampai ke tujuan, tetapi juga dari seberapa optimal armada dimanfaatkan.

Mengurangi empty miles berarti meningkatkan produktivitas kendaraan, menekan biaya operasional, mengurangi konsumsi bahan bakar, serta menjaga daya saing perusahaan.

Semakin kecil persentase perjalanan kosong, semakin besar peluang perusahaan memperoleh keuntungan dari setiap perjalanan distribusi.

Fastruck Membantu Distribusi Lebih Efisien

Fastruck menghadirkan layanan transportasi logistik yang didukung Transport Management System (TMS) dan perencanaan distribusi yang terintegrasi.

Melalui pengelolaan rute yang optimal, pemantauan armada secara real-time, serta jaringan distribusi yang luas, Fastruck membantu memaksimalkan utilisasi kendaraan dan mengurangi perjalanan tanpa muatan.

Dengan operasional yang lebih efisien, bisnis dapat menekan biaya logistik, menjaga ketepatan waktu pengiriman, dan meningkatkan profit distribusi antar kota.